SEKATEN. Sekaten adalah salah satu perayan upacara adat untuk memperingati Hari Lahir Nabi Muhammnad Saw atau yang biasa disebut dengan Maulud Nabi. Perayaan sekaten di Jogja sudah sejak tahun 1960an yang biasa diperingati di Alun-alun Utara Jogja pada bulan ketiga kalender Jawa. Jika datang ke Jogja memilih untuk datang pada bulan Sapar (kalender jawa) adalah saat yang tepat datang ke Jogja. Karena para pengunjung bisa menikmati wahana bermain di pasar malem seperti Bianglala, Ombak Banyu, Rumah Hantu, Komedi Putar, Tong Setan dan masih banyak wahana lain. Tidak hanya permainan tetapi kita bisa sambil kuliner dan belanja. Dan kita bisa menyaksikan prosesi upacara inti perayaan sekaten
1. Miyos Gongso
Miyos Gongso adalah prosesi pengeluaran dua Gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Nogowilogo dari Kraton Jogja menuju Mesjid Gede Kauman. Rute yang dilewati yaitu Alun-alun Utara kemudian menuju Mesjid Gede Kauman. Kedua Gamelan itu di bawa oleh abdi dalem dari Keraton. Dengan dikeluarkannya kedua Gamelan tersebut, itu bertanda dimulainya Sekaten. Prosesi acara Miyos Gongso diadakan pada tengah malem sekitar pukul 23.00 WIB. Jika ingin menyaksikan upacara adat ini datang lebih awal karena masyarakat banyak yang antusias menyaksikan prosesi Miyos Gongso ini.
2. Numplak Wajik
Numplak wajik adalah proses pembuatan wajik atau makanan khas Jogja yang terbuat dari beras ketan dengan gula kelapa). Prosesi ini diadakan di Pawon Ageng di halaman bangsal Kemagangan Kidul pada sore hari, prosesi ini harus disaksikan oleh salah satu saudara Sri Sultan yang menjadi pengageng Kraton Yogyakarta. Acara numplak Wajik ini cukup unik karena prosesi acaranya diiringi oleh alat musik ansambel lesung-alu, kenthongan, dan berbagai alat musik kayu lainnya. Jika ingin menyaksikan prosesi acara Numplak Wajik di bangsal Kemagangan Kidul yang letaknya di selatan Keraton Yogyakarta.
3. Kondor Gongso
Kondor Gongso atau dalam bahasa indonesia "Kondor" yang berarti "Pulang" yaitu merupakan acara kebalikan dari Miyos Gongso, Dua Gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Nogowilogo yang di usung ke Mesjid Gede Kauman dipulangkan ke Kraton setelah ditabuh selama 7 hari di Mesjid Gede Kauman. Pada prosesi Kondor Gongso ini ada hal yang unik yaitu "Sebar Udhik-Udhik". Sebar udhik-udhik adalah menyebarkan beras kuning dan uang logam dan bunga yang disebarkan oleh Raja Kraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono. Masyarakat percaya akan mendapatkan berkah, ketenangan, dan kelancaran rezeki karena itu masyarakat antusias untuk berebut mendapatkan udhik-udhik. Acara ini diadakan malam hari sebelum Grebeg Maulud di pagi harinya.
Grebek Maulud merupakan prosesi terakhir dari perayaan Sekaten dan merupakan prosesi yang paling ramai didatangi dibandingkan dengan prosesi-prosesi lainnya oleh berbagai masyarakat. Prosesi ini dimulai pada jam 07.30 dan akan diawali dengan Parade Kesatuan Prajurit Kraton Yogyakarta dengan menggunakan pakaian adat. Pada prosesi ini nantinya akan ada Gunungan, Gunungan ini yang dinanti masyarakat karena dipercaya akan mendapat berkah, kelancaran rezeki dan ketenangan. Gunungan di keluarkan dari Siti Hinggil menuju Halaman Alun-alun Utara, Mesjid Gede Kauman dan Pakualam. Datang lebih awal agar mendapatkan posis paling depan.

No comments:
Post a Comment